Corona, Simiskin, Sikaya dan Walikota

Oleh: Novri Hendri, S. Sos
Wartawan Utama Dewan Pers


Teringat aku, waktu kecil sering bermain dengan teman teman. Teman sepermainanku, waktu itu masih kecil kecil juga. Makna dari permainan yang terdiri dari dua kelompok itu, antara simiskin dan sikaya saling memberi. Kelompok si kaya dengan berpegangan bahu dan didepan kelompok simiskin juga berpegang bahu.

Sambil berpegang bahu mereka bergerak maju mundur sembari menyanyikan lagu.

Saya orang kaya,
yahuna yahuna.
Saya orang miskin, yahuna yahuna.
Saya minta anak, yahuna yahuna.
Siapakah namanya, yahuna yahuna.
Si Dewi namanya, yahuna yahuna.
Pergilah kamu Dewi jangan kembali lagi.

Sekarang lagu selingan bermain itu, yahuna sudah berobah menjadi corona. Beda dengan yahuna, sikaya minta bantuan simiskin, sebaliknya corona simiskin mengharapkan bantuan sikaya. Lockdown membuat simiskin  tak bisa berusaha dan pasrah menunggu uluran tangan sikaya. Sikaya meski lockdown dirumah, dengan segala fasilitas kekayaan masih bisa merasakan hidup senang ditengah wabah corona.

Dalam kehidupan sehari hari, terlepas adanya lagu yahuna dan corona antara simiskin dan sikaya bagaikan dua sisi mata uang yang tak bisa dipisahkan dan saling berkaitan. Tak kan ada sikaya tanpa simiskin, tak ada simiskin tanpa sikaya. Simiskin membatu sikaya dengan tenaga, sikaya membantu simiskin dengan materi. Apalagi, ditengah wabah corona, membuat simiskin menderita, sikaya wajib menghulurkan tangannya membantu simiskin.

Lalu, apa hubungan corona, simiskin, sikaya dan walikota. Sebenarnya, secara kinerja walikota, pasti ada kaitannya dengan sikaya dan miskin. Karena mereka sama sama warga walikota. Wabah corona membuat simiskin di lockdown dan kehilangan mata pencaharian, itu menjadi kewajiban walikota mencarikan solusinya. Dan, walikota sebagai orang nomor satu didaerahnya,  tentu berupaya menyelamatkan warganya, salah satunya meminta bantuan orang kaya.

Inipun sudah mulai dilakukan Walikota Padang dengan mendata orang kaya melalui RT. Sepertinya, tindakan walikota ini, rasa frustasi oleh makin mewabahnya corona. Sebagai walikota, tentu ia mengenal orang kaya didaerah dan meminta bantuan secara spontan. Kalau didata, berapa lama waktu mendata, sementara perut simiskin sudah semakin data kelaparan. Setelah didata lalu dirapatkan, lalu berapa lama waktu rapat. Sementara, kehidupan simiskin sudah  sekarat.

Sekarang ini, simiskin butuh aksi untuk menyelamatkan mereka akibat lockdown. Mereka tak butuh data,  dan rapat berkepanjangan yang belum menunjukkan aksi. Ataukah, kita  menunggu terlebih dahulu simiskin bertindak anarki dengan menjarah untuk penyambung hidup.

Bukankah, istilah ditengah masyarakat, lebih baik bacakak jo urang daripado bacakak jo kalang kalang, sering menjadi bahan gurauan.  Sebelum ini terjadi, diharapkan walikota dan jajarannya cepat beraksi, bukan hanya sibuk  mendata dan rapat, membuat simiskin makin sekarat

(***)

Posting Komentar

0 Komentar