Sumbar Raya,(PADANG)- - – Adanya temuan Badan Pemeriksa
Keuangan (BPK) Perwakilan Sumbar terhadap Surat Pertanggung Jawaban
(SPJ) fiktif di Dinas Prasarana Jalan Tata Ruang dan Pemukiman
(Disprasjaltarkim) dinilai banyak pihak sebagai bentuk lemahnya
pengawasan dari pimpinan. Karena kejadian serupa ini dinilai bisa saja
terjadi di setiap Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) yang ada.
Pamong Senior, Rusdi Lubis, mengatakan, munculnya kasus ini disebabkan
lemahnya pengawasan internal. Dimana pimpinan terlalu percaya kepada
bawahan, sehingga kepercayaan ini malah disalah gunakan.
“Seharusnya pimpinan tidak boleh terlalu percaya dengan bawahan. Tetap
jeli dan harus awas dengan apa pun yang dilakukan bahawan. Kalau sudah
seperti ini pimpinan tentu juga harus bertanggung jawab,” katanya kepada media ini, di Padang.
Rusdi melihat, kejadian ini sebenarnya harus menjadi pintu untuk masuk
pemerintah daerah dalam meningkatkan pengawasan, mengingat hal seperti
ini bisa saja juga dilakukan di SKPD lainnya di lingkungan Pemprov
Sumbar.
“Initinya pimpinan harus awas. Dan ‘pengawasan malaikat’ harus
diperkuat ke depannya. Jangan sampai malah adanya kongkalingkong antara
atasan dan bahwan. Inspektorat juga harus awas,” ujarnya.
Dihubungi terpisah, Wakil Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD)
Sumbar, Arkadius Dt. Intan Bano, menyebutkan, perlu adanya peningkatan
pengawasan terhadap kegiatan yang dilakukan dengan anggaran yang besar.
Mengingat selama ini DPRD hanya berwenang melakukan pengawasan terhadap
kebijakan yang dilakukan eksekutif.
“Makanya kita telah minta ke BPK agar kita juga dapat melakukan
pengawasan kepada pelaksanaan kegiatan tidak hanya pada tataran
kebijakan. Karena memang saat sesuai dengan arahan kebijakan DPRD Sumbar
2017 fokus pada pengawasan disamping menyelesaikan Perda (Peraturan
Daerah),” ungkapnya.
Terkait dengan besaran temuan BPK RI perwakilan Sumbar Arkadius
menyebutkan, tidak mengetahui pasti. Namun, lanjutnya dari informasi
yang beredar besarannya cukup signifikan. “Ya, informasi yang saya
dengar itu Rp45 miliaran,” paparnya.
Seperti diberitakan sebelumnya, BPK RI Perwakilan Sumbar kembali
menemukan penyelewengan uang negara mencapai angka puluhan miliar
rupiah, penyelewengan tersebut diduga dilakukan oleh oknum staf Dinas PU
dengan inisial JSN. Bergerak sebagai Pejabat Pelaksana Teknis Kegiatan
(PPTK) di dinas tersebut.
Sekretaris Daerah (Sekda), Ali Asmar, mengatakan, setelah dipanggil
yang bersangkutan mengakui bahwa peyelewengan tersebut dilakukannya
hanya sendiri dengan modus Surat Pertanggungjawaban (SPJ) fiktif. Dengan
memperbanyak, dan menambah laporan SPJ ganti rugi pembebasan lahan
untuk proyek jalan Samudera dan pembebasan lahan pembangunan Play Over
di Kota Padang dari dana APBD 2015.(h/net)
