• Breaking News

    Advertisement

    loading...

    Dari Masjid untuk Negeri: Jejak Visioner Fauzi Bahar Membangun Generasi Padang Lewat Pesantren Ramadhan



    Padang, 28 Februari 2026 – Di awal milenium, ketika arus modernisasi mulai kencang menyentuh pesisir Sumatera Barat, muncul kekhawatiran akan pudarnya nilai-nilai tradisional Minangkabau di tengah perubahan zaman. Di tengah persimpangan budaya tersebut, lahirlah sebuah kebijakan visioner yang kini menjadi tonggak sejarah pendidikan karakter di Kota Padang: Program Pesantren Ramadhan.


    Program ini digagas pada tahun 2004 oleh Wali Kota Padang saat itu, Fauzi Bahar. Berbeda dengan pembangunan fisik yang bersifat monumental, ia memilih membangun “monumen hidup” dalam jiwa generasi muda. Pesantren Ramadhan menjadi jawaban atas kebutuhan pembentukan karakter di tengah derasnya tantangan sosial seperti narkoba dan pergaulan bebas.



    Pendidikan Berbasis Masjid



    Sejak pertama kali dilaksanakan, Pesantren Ramadhan memindahkan aktivitas belajar siswa ke masjid dan mushalla selama bulan suci. Kebijakan ini bukan sekadar pengalihan lokasi belajar, tetapi sebuah misi besar untuk memperkuat fondasi moral generasi muda.


    Di bawah kubah masjid, para siswa tidak hanya mendalami bacaan Al-Qur’an, tetapi juga memperkuat akhlakul karimah sebagai kompas kehidupan. Nilai-nilai empati dan kepedulian sosial ditanamkan melalui praktik zakat, infak, serta kegiatan kebersamaan lintas latar belakang sosial.


    Program ini berakar kuat pada falsafah Minangkabau, Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah, yang menegaskan harmoni antara adat dan ajaran agama dalam kehidupan masyarakat.



    Inklusif dan Berkelanjutan



    Menariknya, Pesantren Ramadhan sejak awal dirancang tidak eksklusif. Siswa non-Muslim tetap mendapatkan ruang pembinaan keimanan sesuai keyakinan masing-masing. Pendekatan ini memperlihatkan upaya membangun kota yang religius sekaligus inklusif—miniatur harmoni Indonesia dari gerbang Sumatra.


    Dua dekade berlalu, program ini tetap bertahan dan berkembang. Di bawah kepemimpinan para penerus, termasuk inovasi yang dilanjutkan oleh Fadly Amran, Pesantren Ramadhan terus bertransformasi. Kini program tersebut terintegrasi dengan teknologi pembelajaran, kompetisi sains, hingga dukungan sosial seperti bantuan seragam gratis bagi siswa kurang mampu.



    Warisan Peradaban



    Apa yang dimulai pada 2004 bukanlah sekadar program musiman. Pesantren Ramadhan telah menjelma menjadi institusi pendidikan nonformal yang paling dinanti setiap tahunnya di Kota Padang. Ribuan generasi muda telah ditempa dari masjid-masjid kota ini, membawa nilai religius dan karakter kuat dalam kehidupan mereka.


    Pesantren Ramadhan menjadi bukti bahwa pendidikan sejati bukan hanya mencetak kecerdasan intelektual, tetapi juga membangun keteguhan hati dan moralitas. Sebuah benteng masa depan bangsa yang dibangun bukan dari beton dan baja, melainkan dari nilai, iman, dan kebersamaan.


    Hingga hari ini, “monumen hidup” itu tetap berdiri kokoh di sudut-sudut masjid Kota Padang—menjadi warisan peradaban yang terus menyala bagi generasi penerus.


    Tim

    Tidak ada komentar

    ada

    ada

    Post Bottom Ad

    ad728
    PT. Prosumbar Media Group, Mengucapkan: Selamat datang di www.sumbarraya.com, Terima kasih telah berkunjung.. Semoga anda senang! Tertanda Pemred: Nov Wibawa