PADANG, SUMBARRAYA.COM – Seorang siswa kelas XI SMA Negeri 16 Padang mengalami luka bakar saat mengikuti parade ekstrakurikuler di lingkungan sekolah, Kamis siang (16/7/2026).
Insiden tersebut terjadi saat kegiatan parade ekstrakurikuler yang merupakan agenda tahunan sekolah untuk memperkenalkan berbagai kegiatan kepada siswa baru.
Berdasarkan informasi yang dihimpun, korban mengalami luka bakar setelah obor yang digunakan dalam penampilan siswa terlepas dan mengenai tubuhnya. Korban kemudian dilarikan untuk mendapatkan perawatan medis di RSUP Dr. M. Djamil Padang.
Sebelumnya, beredar informasi bahwa insiden tersebut diduga terjadi saat atraksi menggunakan bensin dan korek api. Namun, pihak sekolah membantah informasi tersebut.
Kepala SMAN 16 Padang, Drs. Erizal, M.Si., menjelaskan bahwa insiden bermula ketika sejumlah siswa menggunakan obor dalam penampilan parade tanpa sepengetahuan pembina.
“Parade ekstrakurikuler sudah ditangani dengan baik. Siswa memakai obor, kemudian obor itu lepas dan mengenai siswa kelas XI sehingga menyebabkan luka bakar,” ujar Erizal saat dikonfirmasi, Jumat (17/7/2026).
Menurutnya, pihak sekolah maupun pembina sebelumnya telah mengingatkan para siswa agar tidak menggunakan peralatan berbahaya, termasuk api, dalam penampilan mereka.
“Anak-anak ini ingin tampil di depan adik-adik kelasnya. Sebenarnya sudah dilarang oleh pembina agar tidak memakai obor atau hal-hal seperti itu. Namun, tanpa sepengetahuan pembina, ternyata mereka tetap menggunakannya,” jelasnya.
Erizal mengatakan, pihak sekolah langsung membawa korban ke rumah sakit untuk mendapatkan penanganan medis. Sekolah juga membantu proses administrasi dan pengurusan BPJS bagi korban.
“Oleh sekolah siswa langsung dibawa ke rumah sakit. Orang tua juga dibantu mengurus BPJS. Saya pribadi juga memberikan bantuan kepada keluarga,” katanya.
Terkait kondisi korban, Erizal menyebutkan bahwa salah seorang siswa yang sempat menjalani perawatan telah diperbolehkan pulang, sementara korban lainnya masih mendapatkan perawatan.
“Kemarin saya lihat langsung ke rumah sakit. Kondisinya tidak terlalu parah,” ujarnya.
Namun, pihak sekolah masih melakukan penelusuran terkait asal obor maupun bahan yang digunakan dalam kegiatan tersebut.
“Itu yang sedang kami telusuri. Pembina sudah melarang, tetapi mereka tetap mendapatkannya. Kemungkinan dari luar atau dari teman-temannya,” kata Erizal.
Di sisi lain, hingga Jumat siang, pihak sekolah mengakui belum menyampaikan laporan resmi terkait insiden tersebut kepada Dinas Pendidikan Provinsi Sumatera Barat.
“Rencana sore ini saya menemui Bapak Kepala Dinas untuk melaporkan kejadian tersebut,” ungkapnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Sumatera Barat, Habibul Fuadi, S.Pd., M.Si., saat dikonfirmasi Jumat (17/7/2026) melalui tim jurnalis ASANTARA, mengaku belum menerima laporan resmi dari pihak sekolah.
“Kita koordinasikan ke sekolah untuk tindak lanjut,” ujarnya singkat.
Hal senada disampaikan Kepala Bidang Pembinaan SMA Dinas Pendidikan Sumatera Barat, Mahyan, S.Pd., M.M. Ia mengaku belum memperoleh informasi terkait insiden tersebut.
“Belum dapat info saya. Mungkin sekolah melapor ke Kacabdin,” katanya, Jumat sore (17/7/2026).
Insiden tersebut menjadi perhatian terhadap aspek keselamatan dalam pelaksanaan kegiatan ekstrakurikuler di lingkungan sekolah. Penggunaan api maupun peralatan yang berpotensi membahayakan siswa semestinya dilakukan dengan pengawasan ketat, prosedur keselamatan yang jelas, serta persetujuan pihak sekolah dan pembina.
Peristiwa ini diharapkan menjadi bahan evaluasi bagi pihak sekolah dan Dinas Pendidikan Provinsi Sumatera Barat agar seluruh kegiatan pendidikan dan ekstrakurikuler tetap dapat berlangsung secara kreatif tanpa mengabaikan keselamatan peserta didik.
Redaksi Sumbarraya.com akan terus mengikuti perkembangan kondisi korban serta langkah evaluasi dan tindak lanjut dari pihak sekolah maupun Dinas Pendidikan Provinsi Sumatera Barat.

0 Komentar